Showing posts with label jawa timur. Show all posts
Showing posts with label jawa timur. Show all posts
Simbolisasi Celurit dan Carok Oleh Laki-Laki Madura UntukMengidentifikasikan Dirinya Sebagai Subyek
By kikana art 5:17:00 PM
carok, celurit, culture, jawa timur, life style, masyarakat madura, sejarah, sosial budaya
“Simbolisasi Celurit dan Carok
Oleh Laki-Laki Madura UntukMengidentifikasikan Dirinya Sebagai Subyek”
Oleh: Dewi Nuriyah
I.
Pendahuluan
Celurit adalah sabit berbentuk setengah melingkar yang merupakan senjata tikam khassuku Madura, biasa digunakan sebagai senjata tikam ketika carok. Carok dan celurit sendiriseperti dua sisi mata uang, satu sama lain tak dapat dipisahkan. Carok merupakan kegiatanyang mencitrakan laki-laki Madura dalam melakukan pembelaan harga diri, kemudiandisebut sebagai ksatria.
Pembuatan Celurit
Celurit dibuat dari besi pilihan yang kemudian dibelah dengan ditempa berkali-kaliuntuk mendapatkan lempengannya. Setelah memperoleh lempengan yang diinginkan, besipipih itu lantas dipanaskan hingga mencapai titik derajat tertentu. Logam yang telah membaraitu lalu ditempa berulang kali sampai membentuk lengkungan celurit yang diinginkan.Celurit dibuat dengan penuh ketelitian, sebab celurit merupakan sebuah karya seni,tak hanya sekadar sepotong besi yang ditempa berkali-kali, melainkan harus memiliki artidan makna bagi yang memilikinya. Maka dari itu, biasanya sang pembuat celurit akanberpuasa terlebih dahulu. Bahkan setiap tahun, si empu ini akan melakukan ritual kecil ditempat pembuatan celrit dengan disertai sesajen berupa ayam, nasi dan air bunga. Sesajen itukemudian didoakan di mushala. Baru setelahnya, air bunga disirimkan di bantalan tempatmenempa besi. Bantalan pembuat celurit tidak boleh dilangkahi apalagi diduduki oleh orang, jika ada yang melanggar itu makan akan mendapatkan musibah sakit-sakitan. Biasanya parapembuat celurit mewarisi keahlian ini dari orang tua dan leluhur kakeknya.
Berkembangnya Seni Tradisi Tayub di Era Global
By kikana art 9:38:00 AM
art theory, jawa timur, seni pertunjukan, seni prtunjukan rakyat, sosial budaya, tandak, tayub
Arus globalisasi dan perkembangan informasi dan komunikasi yang cepat terkadang berdampak pada menurunnya popularitas pertunjukkan rakyat. Meski menghadapi tantangan seperti itu, pertunjukkan tayub di Blora masih bertahan dan bahkan berkembang seiring dengan zamannya. Demikian hasil kajian Sri Rochana Widyastutieningrum, S.Kar., M.Hum saat ujian doktor hari Selasa (28/3) di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM.
Menurut Sri Rochana, sebagai seni pertunjukkan rakyat yang dianggap pinggiran, tayub merupakan seni pertunjukkan yang memiliki bentuk kasar dan sederhana. Dalam perkembangannya bentuk kesenian ini ternyata mampu menjadi pertunjukkan seni yang lebih tertata dan menarik.
Suramadu Bridge
By kikana art 7:45:00 AM
brigde, informasi guide, jawa timur, jembatan suramadu, madura, tour, transportasi, travel No comments
The Suramadu Bridge (Jembatan Suramadu), also known as the Surabaya–Madura Bridge, is a bridge with three cable-stayed sections constructed between Surabaya on the island of Java and the town of Bangkalan on the island of Madura in Indonesia. Opened on June 10, 2009, the 5.4-km bridge is the longest in Indonesia and the first bridge to cross the Madura Strait. The cable-stayed portion has three spans with lengths 192 m, 434 m and 192 m. The bridge has two lanes in each direction plus an emergency lane and a dedicated lane for motorcycles. The first toll bridge in Indonesia, fares have been initially set at Rp. 30,000 (US$3 in 2009) for four-wheeled vehicles and Rp. 3,000 (US$0.30) for two-wheelers. The bridge was built by a consortium of Indonesian companies PT Adhi Karya and PT Waskita Karya working with China Road and Bridge Corp. and China Harbor Engineering Co. Ltd. The total cost of the project, including connecting roads, has been estimated at 4.5 trillion rupiah (US$445 million). |
Madura Inrtoduction
By kikana art 7:13:00 AM
informasi guide, jawa timur, madura, masyarakat madura, pariwisata, refferensi, sampang, sosial budaya, travel
Introduction to Madura
|
![]()
The sea crossing from East Java's mainland to the small island of Madura takes just half an hour. A regular ferry service transports cars and passengers across the narrow strait between Surabaya's harbour of Tanjung Perak and Kamal on Madura's south west coast. Measuring some 160 km in length and about 40 across at its widest point, Madura supports a population of close to 2.3 million inhabitants, most of whom are farmers or fishermen. Although the island is a part of the province of East Java, it is home to a completely separate ethnic group, which has its own language and customs. Renowned over the centuries for their sailing prowess, the Madurese are a tough, high spirited people, whose character appears well suited to the harsh climate and dry landscape. Madura's most famous attraction is the annual bull racing (kerapan sapi), which takes place during the dry season in August and September. These exciting and colourful tournaments consist of a race between two pairs of bulls, each team pulling a rider and sled. Following a series of heats, which take place in different parts of the island for some weeks, the highlight of the season occurs when the finals are held in Pamekasan, Madura's capital. |















