Showing posts with label refferensi. Show all posts
Showing posts with label refferensi. Show all posts
Sastra Sebagai Sebuah Dunia
Pascale Casanova
Penerjemah: Noor Cholis
Pelanggan: Tuhan membuat dunia hanya dalam enam hari dan kamu, kamu tak bisa membuatkan aku celana panjang dalam enam bulan!
Penjahit: Tapi, bos, lihat dunia, dan lihat celanamu.
dikutip oleh Samuel Beckett
Jauh, jauh darimu sejarah dunia membentang, sejarah dunia jiwamu.
Franz Kafka
Tiga pertanyaan. Mungkinkah menjalin kembali ikatan yang sudah hilang antara sastra, sejarah dan dunia, sambil tetap memelihara pengertian penuh tentang keunikan teks-teks sastra yang mustahil ditawar? Kedua, bisakah sastra itu sendiri dipahami sebagai sebuah dunia? Kalau bisa, mungkinkah penjelajahan atas wilayahnya akan membantu kita menjawab pertanyaan nomor satu?
Tubuh-Tari dan Tubuh-Teater Masa Kini (tubuh dari antropologi budaya lisan)
Tubuh manusia telah menjadi tari dan teater sekaligus, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik. Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri. Melalui berbagai gelombang peradaban, godaan itu menggiring manusia mencari bayangan sakral Tuhan sekaligus mencari kepuasaan karnal dirinya lewat tubuhnya sendiri. Dan tubuh adalah ihwal yang mengalami bentukan budaya dari berbagai nilai, yang pada gilirannya memperlihatkan bagaimana manusia mengalami kesulitan dalam membaca tubuhnya sendiri. Semua peradaban manusia berkaitan langsung dengan kelebihan, keterbatasan maupun pengagungan tubuh manusia, sejak dari militerisme, seni, filsafat hingga ke kosmetika.
Madura Inrtoduction
By kikana art 7:13:00 AM
informasi guide, jawa timur, madura, masyarakat madura, pariwisata, refferensi, sampang, sosial budaya, travel
Introduction to Madura
|
![]()
The sea crossing from East Java's mainland to the small island of Madura takes just half an hour. A regular ferry service transports cars and passengers across the narrow strait between Surabaya's harbour of Tanjung Perak and Kamal on Madura's south west coast. Measuring some 160 km in length and about 40 across at its widest point, Madura supports a population of close to 2.3 million inhabitants, most of whom are farmers or fishermen. Although the island is a part of the province of East Java, it is home to a completely separate ethnic group, which has its own language and customs. Renowned over the centuries for their sailing prowess, the Madurese are a tough, high spirited people, whose character appears well suited to the harsh climate and dry landscape. Madura's most famous attraction is the annual bull racing (kerapan sapi), which takes place during the dry season in August and September. These exciting and colourful tournaments consist of a race between two pairs of bulls, each team pulling a rider and sled. Following a series of heats, which take place in different parts of the island for some weeks, the highlight of the season occurs when the finals are held in Pamekasan, Madura's capital. |
Madura: Sejarah, Sastra, dan Perempuan Seni
By kikana art 5:49:00 PM
culture, life style, madura, masyarakat madura, perempuan peni, refferensi, ruang teater, sastra, sejarah, sosial budaya
![]() |
| photo koleksi kikanarahman art production |
Perempuan seni dalam dimensi patriarki masyarakat Madura, telah menciptakan kelonggaran relasi gender. Seni pertunjukan yang tidak meninggalkan tradisi diasporik masyarakat Madura telah memposisikan perempuan dan laki-laki sebagai elemen pembentuk harmonisasi.
Dengan demikian, rentang sejarah yang panjang telah menjadikan perempuan seni di Madura teruji menjadi subjek dalam formasi sosial masyarakat Madura.
Terkadang, faktor ekologis sebuah wilayah bisa menjadi faktor utama pembentukan kultur sebuah masyarakat. Tradisi diasporik masyarakat Madura, berawal dari sejarah kelangkaan ekologis (ecological scarcity) yang panjang pada abad ke-18, yang memaksa penduduknya untuk berimigrasi ke daerah lain terutama pulau Jawa. Jika melakukan pendekatan sejarah ekologi (eko-historikal) pada masyarakat Madura untuk menemukan pola atau formasi sosial serta perubahan sosialnya, maka motif ekonomi terlihat sebagai sebuah kesadaran yang mengembalikan sentimen kooperatif masyarakat Madura pada awal abad ke-20.
SENIMAN SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL
Kesenimanan.
Yang dimaksud seniman di dalam pembahasan ini bukanlah sekedar istilah sebagaimana yang biasa dipergunakan oleh siapa saja yang merasa bisa melakukan kegiatan seni tertentu. Seperti misalnya orang yang bisa menari, bisa menabuh gender, atau bahkan tukang ngamen yang sering menyebut dirinya seniman jalanan. Dalam pembahasan ini berusaha melihat seniman lebih sebagai disiplin. Dan oleh karena itu maka predikat seniman mengandung pertanggung jawaban serta konsekuensi profesi yang tidak dapat dimiliki oleh setiap orang. Bahkan oleh mereka-mereka yang telah lama hidup di dunia seni sekalipun. Apalagi dengan semakin berkembangnya spesifikasi kajian dalam ilmu pengetahuan termasuk dalam hal ini seni, mengembangkan pula bidang-bidang keahlian/profesi dalam disiplinnya. Dalam seni misalnya ada yang disebut kritikus seni, peneliti seni, seniman. guru/ pelatih seni, dst.
Ghumbak
Kata "gumbak" dalam bahasa Madura berati mengaduk-aduk air kolam (sungai) sehingga menimbulkan ombak atau gelombang. Selanjutnya istilah ”gumbak” yang terkait dengan upacara sakral di desa Banjar (Kecamatan Kedungdung) berhubungan dengan tradisi ”baceman” yang artinya membersihkan dan mensucikan pusaka (senjata tradisional). Senjata tradisional yang dimaksudkan berjumlah 24 senjata / pusaka
Kapankah tradisi ini dicetuskan, tidak ada orang yang mengetahui secara pasti. Konon diyakini oleh masyarakatnya bahwa tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun lamanya, bahkan ada yang meyakini telah berlangsung dua abad lamanya. Dua orang tokoh sakti yang namanya selalu disebut-sebut ialah Buju' Toban dan Buju' Bung Kenek. Berasal dari manakah dua orang tokoh yang dimitoskan sakti tersebut, juga tidak di ketahui secara pasti. Masyarakat mayakini kedua tokoh sakti tersebut berasal dan Banjar (wilayah Kalimantan), yakni tokoh pelarian perang pada tempo dulu yang akhimya menetap di desa tersebut (desa Banjar) Kecamatan Kedungdung.
















